Beberapa Info bagi yang berminat :

Sabtu, 09 Mei 2009

Bisnis Madu Menghangatkan


Niat awalnya hanya memenuhi kebutuhan hidup sebagai perantau di Jakarta.

Berasal dari daerah yang terkenal sebagai penghasil madu, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), membawa Syamsudin menjadi pengusaha minuman suplemen yang khasiatnya sudah terkenal sejak zaman dulu.

Niat awalnya hanya memenuhi kebutuhan hidup sebagai perantau di Jakarta. Tetapi tak disangka lelaki 40 tahun asli Sumbawa ini, menjadikan madu sebagai mata penghidupannya.

Semula, sebagai pendatang di ibukota, Syamsudin memutuskan membawa bekal madu sebagai oleh-oleh kepindahannya. Para tetangga dan teman ia beri.

Syamsudin mengaku madu yang ia bawa berbeda dengan madu yang biasa mereka konsumsi. Madu yang berasal dari hutan-hutan perawan Sumbawa. “Memberikan kehangatan yang berbeda,” katanya.

Namun sebagai pengusaha yang baru mulai, Syamsudin tak langsung bergegas. Dia menyiapkan strategi usaha dengan mengurus surat izin. Setelah surat izin perusahaan, serta izin kesehatan ia peroleh pada 1999 dengan nama CV Syam Bimpar Utama.

Dia kemudian mengambil berbagai jenis madu dari tanah kelahirannya. Dibantu pengumpul madu tradisional, Syamsudin membotolkan beberapa jenis madu khas Sumbawa antaralain madu murni, madu putih dan madu hitam.

Bermodalkan Rp 5 juta, Syamsudin bisa menghasilkan 30 botol per bulan. Produksinya terus bertambah hingga mencapai 100 botol hanya pada tahun pertama.

Sistem pemasaran Syamsudin relatif berbeda dengan para pesaingnya. Bersama lima tenaga pemasaran, ia rela menjajajakan produk madunya dengan sistem pintu ke pintu.

Berbekal pengetahuan khasiat madu, Syamsudin menyambangi rumah selain menempatkan jualannya di Jalan Raya Lenteng Agung No 4B Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Harga madu Sumbawa yang ia tawarkan bervariasi. Sesuai dengan ukuran. Kisaran harga jual madu Sumbawa antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah.

Hasilnya menggembirakan. Sekarang produksinya sudah mencapai 2.000 - 3.000 botol per tahun. Sekarang Syamsudin tengah mengembangan sistem penjualan pemesanan.

Dalam sepuluh tahun, usahanya sudah membukukan pendapatan bulanan sekitar 10 juta per bulan dan menghidupi lima orang karyawan.

Selama 10 tahun merintis usaha, Syamsudin masih mengalami kendala kekurangan modal dan manajemen yang belum tertata rapih dan sering berubah-ubah produksi.

Mengatasi kendala kurangnya modal, Syam bersama pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa mengadakan modal bergulir untuk kelangsungan para produsen madu. Secara bertahap dia juga memberikan pengetahuan manajemen dan mengontrol kualitas madu yang dihasilkan. Di Sumbawa, usahanya membina ratusan pengumpul madu dan perajin usaha tradisional gelas madu dari kayu cendana.

Tak hanya berhenti pada produk madu, Syamsudin kemudian membuat minuman berbahan madu Sumbawa dan ginseng. Alhasil, konsumennya menikmati minuman suplemen buatannya. Ke depan, Syamsudin merencanakan akan mengembangkan obat-obatan tradisional Bima dalam berbagai minuman suplemen yang manfaatnya tidak kalah dengan obat-obatan tradisional Indonesia lainnya.
Sumber : VIVAnews
http://bisnis.vivanews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar